TANTANGAN KOPERASI DI ERA GLOBAL


TANTANGAN KOPERASI DI ERA GLOBAL

(catatan menyambut Hari Koperasi Nasional)

 

Harkopnas

Tanggal 12 juli 2016 seluruh insan Koperasi Indonesia merayakan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) yang ke-69. Sudah sepatutnya masyarakat Indonesia bersyukur, karena atas ridho-Nya gerakan koperasi dapat ikut serta merasakan perjalanan koperasi di negeri kita tercinta hingga usianya yang sudah tua dan dapat memberikan kontribusi yang besar dalam perjalanan ekonomi bangsa. peringatan hari koperasi yang kita laksanakan setiap bulan Juli hendaknya dijadikan sebuah momentum dan sarana agar mampu merefleksikan diri untuk introspeksi dan memajukan perkoperasian di Indonesia khususnya di Provinsi Banten.

Saat ini koperasi wajib semakin kreatif dan inovatif untuk menghasilkan produk produk yang berkualitas agar dapat memanfaatkan potensi pasar ASEAN yang berpenduduk 450 juta jiwa. Koperasi diharapkan berperan secara strategis menggerakkan anggotanya sebagai pelaku usaha daripada penonton di negerinya sendiri karena populasi penduduk Indonesia sebanyak 240 juta jiwa lebih atau sebesar 47% dari seluruh populasi negara negara ASEAN. Ini potensi pasar yang luar biasa besar dan harus dimanfaatkan secara maksimal.

Koperasi di Era Global

Ciri-ciri globalisasi ditandai dengan adanya pergerakan barang, modal dan uang dengan bebas masuk ke Indonesia. Sehingga era globalisasi sering menjadi dilema bagi masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Kita tidak bisa membendung dan menahan bergulirnya globalisasi di tengah-tengah masyarakat, yang bisa kita lakukan adalah mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap tantangan globalisasi. Para pelaku usaha khususnya Koperasi dan UMKM (KUMKM) harus mampu bersikap reaktif dan antisipatif menghadapi globalisasi ekonomi. Bukan mengeluh dan berteriak bahwa kita belum siap menghadapi globalisasi tanpa ada usaha dan kerja keras. Berteriak dan mengeluh bukan merupakan solusi dari ancaman globalisasi. Di lain pihak, kontroversipun muncul di kalangan akademisi, pengamat dan para pelaku bisnis. Ada yang berteriak lantang, bahwa kita belum siap menghadapi perdagangan bebas dengan China dan negara-negara ASEAN. Cukup kita sadari bahwa globalisasi ekonomi sekalipun telah menjadi sistem yang mendunia, tetapi tetap saja berada dalam ranah yang penuh kontroversi. Di satu sisi globalisasi mempunyai dampak positif di antara aktor-aktor ekonomi dunia. Mereka meyakini bahwa pasar terbuka, arus modal tanpa pembatas, akan memaksimalkan efisiensi dan efektifitas ekonomi demi terwujudnya kesejahteraan untuk semua. Sebaliknya di sisi lain kelompok anti globalisasi meyakini bahwa liberalisasi ekonomi hanya akan menguntungkan yang kuat dan melumpuhkan yang lemah, menciptakan kebangkrutan dan ketergantungan struktural negara berkembang atas negara maju.  Untuk itu, globalisasi ekonomi haruslah disikapi dengan kritis, hati-hati, dan penuh perhitungan. Seperti misalnya dampak perdagangan Indonesia dengan China dan negara negara ASEAN pasca ditetapkannya Cafta ataupun MEA, apakah membawa nikmat dan berkah atau membawa sengsara ? atau sengsara membawa nikmat ? membanjirnya produk dari China di Indonesia, di satu sisi bisa menjadi pemicu bangkitnya KUMKM di negeri kita untuk meningkatkan daya saing produksinya. Namun di sisi lain murahnya produk dari China menguntungkan konsumen di negeri kita yang memiliki kemampuan daya beli terbatas karena berpendapatan rendah.

Koperasi di Banten

Perkembangan koperasi di Provinsi Banten menunjukan peningkatan yang signifikan. Sementara jika dilihat dari segi kualitas, koperasi cenderung lebih konsisten dan memberikan dampak positif yang lebih luas yaitu peningkatan kesejahteraan keluarga. Prioritas pada pemberdayaan koperasi juga bisa dilihat dari kenyataan bahwa koperasi cenderung lebih konsisten dibanding jenis usaha lainnya. Koperasi dapat menumbuhkan antara lain kelompok usaha masyarakat yang produktif dan potensial, karena keberadaan kelompok tersebut cukup banyak.
Disisi lain, Koperasi harus siap menghadapi era globalisasi seperti pengalaman saat keterpurukan perekonomian pasar yang menghasilkan pengangguran dan kemiskinan besar-besaran di negeri ini beberapa waktu yang lalu. Saat itu, dimana krisis moneter dan krisis sosial terjadi di Indonesia, koperasi telah tampil sebagai juru selamat bagi mereka yang terpinggirkan dari perekenomian kapitalistik. Pengalaman ini tentu menjadi pembelajaran berharga bagi bangsa Indonesia bahwa sektor usaha KUMKM menjadi soko guru dan urat nadi perekonomian di negeri kita. Untuk itu, gerakan Koperasi tidak berharap bahwa era globalisasi akan menjadikan negeri kita semakin terpuruk yang disebabkan salah strategi dalam mengelola pembangunan ekonomi dan politik. Reformasi yang perlu digulirkan tidak saja reformasi politik, tetapi yang lebih penting lagi adalah reformasi bidang ekonomi dan keuangan. Sektor KUMKM harus menjadi prioritas utama pemerintah dalam membangun ekonomi bangsa menuju era globalisasi. Menggerakan ekonomi rakyat melalui koperasi akan membuka kesempatan kerja seluas-luasnya. Melalui upaya ini akan terbuka peluang lapangan kerja. Gerakan Koperasi menyadari bahwa sektor KUMKM merupakan kegiatan untuk rakyat kecil, yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat kita.

4 sehat 5 sempurna

Untuk menuju koperasi yang sehat maka koperasi harus mendapatkan menu empat sehat lima sempurna, yaitu : akses permodalan, kualitas SDM, manajemen lebih baik dan bantuan pemasaran/penjualan serta kemitraan dengan perusahaan besar (match making). Sampai kapanpun koperasi akan senantiasa relevan dengan perkembangan zaman. Di negara manapun, koperasi masih memberikan kontribusinya pada ekonomi nasional, pada kesejahteraan rakyatnya. Apalagi masyarakat Indonesia  dikenal memiliki semangat kerjasama dan kegotongroyongan yang tinggi. Semangat ini - seperti dikemukakan oleh Bapak Koperasi Indonesia Almarhum Bapak Mohammad Hatta - ialah semangat yang sesuai untuk membangun koperasi. Bangsa kita lebih mengedepankan persaudaraan, kerjasama dan kegotongroyongan. Atas dasar itu, the founding father kita menyusun usaha yang kita anggap sesuai dengan sifat-sifat dasar masyarakat Indonesia. Memang koperasi memerlukan bimbingan, dorongan dan stimulan dari pemerintah. Para pengurus koperasi juga dituntut untuk dapat mengembangkan profesionalismenya agar mampu mengelola koperasi supaya dapat hidup dan berkembang. Pengelolaan koperasi memang tidak dapat dilakukan “secara sambil lalu, jauh dari semangat dan etos kerja yang tinggi. Pengelolaan yang seperti itu akan menyebabkan koperasi tidak mampu bertahan hidup apa lagi berkembang.  Kini saatnya para penggiat gerakan koperasi untuk bersama-sama dengan pemerintah membangun koperasi sebagai lembaga usaha yang sehat, terbuka dan mandiri. Sehat artinya pengelolaan koperasi bebas dari segala bentuk penyimpangan,  terbuka artinya manajemen koperasi tidak boleh ditutup-tutupi sesuai dengan semangat koperasi itu sendiri yang senantiasa terbuka untuk diketahui oleh para anggotanya. Mandiri artinya koperasi bekerja secara independen, bebas dari segala intervensi dan kendali pihak-pihak yang tidak berhubungan dengan koperasi.

Demokrasi ekonomi

Gerakan koperasi Indonesia pada hakikatnya ialah perwujudan “Demokrasi Ekonomi” sesuai pasal 33 ayat (1) UUD 1945 beserta penjelasannya. Dalam koperasi, kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang perorang. Logikanya, jika Koperasi dibangun menurut esensi tersebut di atas sejatinya kemiskinan dan kesenjangan akan dapat diatasi. Koperasi Indonesia, selain memiliki ciri ciri universal, juga mempunyai visi : Pertama, Koperasi Indonesia sebagai jiwa dan semangat kekeluargaan (gotong royong) yang merupakan nilai dasar Pancasila dan harus menjadi acuan baik secara internal maupun dalam interaksi dengan semua pelaku ekonomi seperti BUMN dan swasta. Kedua, koperasi Indonesia sebagai wadah ekonomi rakyat merupakan bagian integral dari sistem perekonomian Pancasila yang bervisi sebagai wadah ekonomi yang mengamalkan gotong royong sebagai nilai dasar pancasila (Subiakto Tjakrawerdaja, antaranews.com).

Sejatinya kantor kantor Pemerintah, BUMN dan Swasta harus mendirikan Koperasi pegawai atau koperasi karyawan. Lewat koperasi ini, para pegawai/karyawan dapat meningkatkan kesejahteraannya. BUMN dan swasta mestinya menjual sebagian sahamnya kepada Koperasi Karyawan. Dengan cara ini maka masyarakat ikut merasa memiliki BUMN atau perusahaan swasta tersebut. Model kemitraan ini sebenarnya telah digagas sejak era Presiden Suharto yang menghendaki koperasi  memiliki minimal 25% saham perusahaan BUMN/Swasta (Subiakto Tjakrawerdaja, antaranews.com).

Penutup

Dirgahayu Koperasi Indonesia. Selamat kepada seluruh warga koperasi Indonesia khususnya gerakan Koperasi di Provinsi Banten. Semoga di masa yang akan datang koperasi akan tetap jaya dan dapat memberikan sumbangan penting bagi kemajuan masyarakat.

Penulis :

Arief Rachman, SE, M.Si,

 

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan