ERA BARU APLIKASI ON LINE UBAH TATANAN BISNIS KONVENSIONAL


ERA BARU APLIKASI ON LINE

UBAH TATANAN BISNIS KONVENSIONAL

(ARIEF RACHMAN, SE, M.Si/

Pembina Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) Wilayah Banten)

 

On line vs konvensional.

Minggu-minggu ini Jakarta dilanda demo sopir Taksi dan sopir angkutan umum,  kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Perhubungan Republik Indonesia diserbu ribuan pengemudi taksi. Mereka berdemo menolak kehadiran taksi yang berbasis aplikasi online. Kita pasti bisa dengan mudah menerka penyebabnya. Ya, penghasilan mereka terpangkas akibat hadirnya taksi berbasis aplikasi. Bahkan sebetulnya bukan hanya taksi itu yang membuat penumpang berpindah. Ojek online merebut sebagian pasar taksi konvensional. Para pengemudi taksi dan angkutan umum mengeluh. Padahal uang yang dibawa pulang untuk makan anak-istri makin turun. Berbeda dengan sopir taksi dan angkutan umum, pemilik taksi on line disinyalir adalah kalangan the have  yang hanya mencari tambahan penghasilan selain mereka telah memiliki pekerjaan atau usaha yang telah mapan. Masyarakat prihatin dengan kenyataan tersebut, apalagi jumlah pengemudi angkutan umum ini tidak sedikit. Mungkin kita bergumam : mengapa mereka tidak berubah saja ? Kemana para executivenya ? Mengapa mereka membiarkan pasarnya digerus para pelaku bisnis online tanpa berupaya melakukan perubahan internal dan melakukan perlawanan ? Tentu semua ini tak akan mudah. Supaya fair, kita mesti melihatnya dari sisi yang lain, yakni pengemudi taksi berbasis aplikasi dan ojek online. Mereka juga mungkin tengah mencari penghasilan lebih untuk mencukupi kebutuhan anak istrinya. Lalu, pelanggannya juga senang memakai taksi berbasis aplikasi karena serasa naik mobil pribadi dan tarifnya pun murah. Begitu selesai langsung turun. Praktis. Tak pakai bayar-bayaran tunai. Bisnis taksi berbasis aplikasi ini juga punya pesaing. Kita bisa klik www.nebeng.com. Ini aplikasi yang juga mempertemukan pemilik kendaraan pribadi dengan mereka yang membutuhkan angkutan ke arah yang sama. Tarifnya tak kalah bersaing, cukup murah. Para pemilik kendaraan yang rela “ditebengi” ini juga ikut andil dalam mengurangi kemacetan di Jakarta. Ketimbang setiap orang naik mobil pribadi, lebih baik satu mobil dipakai bersama-sama dengan cara nebeng. Jumlah mobil yang masuk ke Jakarta jadi lebih sedikit. (Rumah perubahan Rhenald Kasali).

Pertarungan Business Model

Kehadiran taksi berbasis aplikasi on line ialah penanda datangnya era crowd business. Bisnis ini adalah bisnis yang kalau kita coba mencari polanya bakal pusing sendiri. Sebab serba tidak jelas. Misalnya, tidak jelas batasan antara produsen dan konsumen. Juga, tidak jelas mana kreditor dan debitornya. Siapapun bisa menjadi pemasok, tetapi sekaligus menjadi konsumen. Crowd business kian kencang berputar akibat kemajuan teknologi informasi, terutama membuat arus informasi mengalir deras dan sekaligus memangkas biaya-biaya transaksi. Dulu kalau kita mau mencari suatu barang mesti menghabiskan waktu, tenaga dan uang. Kita datang ke beberapa toko, melihat barang, membandingkan harganya, dan melakukan tawar-menawar. Kalau setuju, baru kita membayar. Kita cukup berselancar di dunia maya, mencari barang dan membandingkannya, memilih, memesan, lalu membayar. Semuanya bisa dilakukan tanpa kita harus beranjak dari kursi dan dengan biaya nyaris nol. Itu pula yang terjadi dalam perseteruan antara bisnis taksi konvensional vs taksi berbasis aplikasi. Di bisnis taksi konvensional, kita bukan hanya harus membayar jasa angkutannya, tetapi secara tidak langsung juga mesti menanggung biaya kredit mobilnya, gaji pegawai perusahaan taksinya, biaya listrik dan AC, dan sebagainya. Di bisnis taksi berbasis aplikasi, kita tidak ikut menanggung biaya-biaya tersebut. Jadi, tak mengherankan kalau tarifnya bisa lebih murah. Switching cost dalam industri ini amat rendah. Maka terjadilah down shifting. Lalu, bagaimana yang satu bisa lebih mahal ketimbang yang lain ? Ini adalah persoalan model bisnis. Analoginya mirip bisnis penerbangan full service dengan Low Cost Carrier (LCC). LCC mendesain model bisnisnya dengan memangkas berbagai biaya, sehingga tarifnya menjadi lebih murah ketimbang maskapai penerbangan yang full service. Model bisnis inilah yang membuat bisnis taksi era lama bakal segera usang. Pesaingnya bukan sesama bisnis taksi, melainkan para pembuat aplikasi yang mempertemukan para pemilik mobil pribadi dengan calon konsumen yang membutuhkan jasa angkutan. (Rumah perubahan Rhenald Kasali).

Berdamai bukan menentang

Efisiensi menjadi kenyataan karena kita saling mendayagunakan segala kepemilikan yang tadinya idle dari owning economy. Kasus serupa bisnis taksi bakal kita jumpai dalam bisnis-bisnis yang lain. Di luar negeri, pangsa pasar bisnis perbankan mulai terganggu oleh hadirnya perusahaan-perusahaan crowd funding. Kita bisa cek ini di www.lendingclub.com. Perusahaan ini mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit ke masyarakat. Bedanya, proses mendapatkan kreditnya jauh lebih simpel ketimbang perbankan, dan suku bunganya pun lebih murah.  Di Indonesia, bisnis ala lending club sudah ada. Kita bisa cek website-nya di www.gandengtangan.org. Memang untuk sementara bisnis yang didanai masih untuk usaha skala UMKM dan social enterprise. Tapi, siapa tahu ke depannya bakal melebar ke mana-mana. Di luar negeri ada : www.water.org atau www.kiva.org untuk pembiayaan sanitasi dan lingkungan dengan bunga sangat sangat murah bahkan hampir nol persen. Atau kita juga bisa mengunjungi www.airbnb.com yang mempertemukan para pemilik rumah pribadi yang ingin menyewakan rumahnya dengan orang-orang yang mencari penginapan. Soal tarif, jelas lebih murah ketimbang hotel. Di Indonesia ada www.traveloka.com. Lalu, ada juga aplikasi yang mempertemukan para pemilik mobil pribadi dengan calon konsumen angkutan darat. Namanya Lyft. Hadirnya aplikasi ini membuat bisnis taksi tersaingi. Begitulah, kita tak bisa membendung teknologi. Ia akan hadir untuk menghancurkan bisnis bisnis yang sudah mapan yang tak bisa beradaptasi dengan perubahan. Persis kata Charles Darwin, "bukan yang terkuat yang akan bertahan, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan". Maka kita harus berdamai dengan perubahan. Bagaimana caranya ? Di luar negeri, para pengelola chain hotel berdamai dengan kompetitornya, para pemilik rumah yang siap disewakan melalui jasa www.airbnb.com . Caranya, mereka menjadi pengelola dari rumah-rumah yang bakal disewakan tersebut sehingga ruangan dan layanannya memiliki standar ala hotel.

Dimana posisi koperasi ?

Bisnis aplikasi on line juga akan menghantam koperasi koperasi yang tak mampu menghadapi perubahan zaman dan tak ingin berdamai dengan era aplikasi on line. Koperasi yang tidak berbasis aplikasi online siap-siap gulung tikar. Koperasi harus bangkit jangan hanya mengandalkan sistem tradisional dengan macam-macam buku yang berjumlah 16 buah buku pencatatan.  Untuk itu, belajar dari pengalaman Blue Bird – yang kemarin (maaf) berubah demo menjadi angry bird – dimana tahun lalu total pendapatan blue bird group tembus Rp 4,75 triliun, net profit Rp 735 Milyar. Jumlah driver 36 ribu. Jadi setahun 1 driver sumbang Rp. 20 juta profit ke owner blue bird. Kapitalisme memang seperti itu, profit Rp 735 Milyar hanya dibagikan kepada pemilik saham keluarga pemilik Blue bird. Dengan sistem sharing seperti dilakukan Uber,  maka laba Rp 735 M itu bisa terdistribusi lebih merata ke ribuan mitranya. Tidak hanya dinikmati 2 - 3 owner seperti kasus BB. Seandainya taksi uber jadi berbentuk koperasi, model pembagian labanya jadi lebih adil. Lebih bergaya socialisme. Laba lebih merata, tidak seperti capitalism. Jika uber berbentuk koperasi, ribuan driver Blue Bird sebenarnya bisa pindah ke Uber, jadi anggota Koperasi Uber !!!. Pendapatan mereka bisa lebih tinggi. Blue Bird justru bisa kolaps. Nah milih mana ? Rp 735 Milyar laba dinikmati pemilik saham atau terdistribusi lebih merata dalam bentuk Selisih Hasil Usaha (SHU) bagi anggota Koperasi Uber ? Tantangannya ialah, bagaimana supir ex BB itu sanggup menyiapkan DP (uang muka) untuk membeli mobil secara kredit untuk jadi mitra koperasi uber ? Gandeng saja Koperasi Simpan Pinjam (KSP) atau Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS), atau Koperasi BMT/Koperasi Syariah dan Lembaga Keuangan Mikro. Buat skema yang pas dan terjangkau dengan penghasilan pengemudi taksi. Itulah esensi ekonomi yang diimpikan Bung Hatta. Ribuan pengemudi ex BB punya mobil sendiri sebagai anggota Koperasi Uber, dan bisa dapat profit sharing. Persis disitulah kejaiban aplikasi teknologi benar benar bisa mewujudkan ide indah Koperasi ala Bung Hatta jadi kenyataan, melalui Koperasi Uber. Bung Hatta mungkin tertegun, bagaimana bisa aplikasi Uber ciptaan negeri kapitalis, menjelma menjadi alat demokratisasi ekonomi rakyat. Sinergi ribuan supir ex BB, koperasi uber dan lembaga keuangan mikro seperti Koperasi dalam skema yang win win solution bisa benar benar memajukan ekonomi kelas bawah, Uber Revolution. Manakala ribuan pengemudi hijrah jadi mitra Koperasi Uber karena dapat profit sharing yang lebih fair, bagaimana nasib BB  ? Ya bisa kolaps. Tapi itulah kemenangan Koperasi. Pengemudi  Blue Bird semestinya tidak perlu demo anarkis. Dekati uber, buat Koperasi !!! Tinggalkan BB. Mari gandeng lembaga keuangan mikro seperti KSP, KSPPS, KBMT/Kopsyah. Ciptakan kerjasama win win solution. Laba Rp 735 M hanya untuk 1 atau 2 orang pemilik saham BB adalah contoh extreme capitalism. Aliansi ribuan supir ex BB dengan koperasi Uber bisa merobohkan dominasi itu. Kalau saja ribuan supir BB bergabung dengan koperasi Uber dalam skema yang lebih fair, pelan pelan dominasi kapitalisme ekstrem Blue bird bisa dipatahkan. Aliansi ribuan supir ex BB dengan koperasi Uber mungkin akan dikenang dalam sejarah sebagai bentuk revolusi ekonomi rakyat. Bung Hatta bisa tersenyum. Apakah aliansi ribuan supir taksi ex Blue bird dkk dengan koperasi uber bisa jadi realitas ? Jawabannya sangat bisa,  kalau ada lembaga keuangan yang cerdik dan kreatif yang mampu membantu masyarakat kecil seperti pengemudi taksi.  Esensi ekonomi sharing ala Uber itulah yang sebenarnya dulu pernah dimimpikan  oleh bung Hatta karena lebih fair, efisien dan terdistribusi dengan adil. Tidak terkonsentasi seperti dalam extreme capitalism seperti kasus laba Rp. 735 M yang dinikmati hanya oleh segelintir keluarga  pemilik Bluebird, sementara 36 ribu drivernya termehek mehek dalam nestapa. Padahal setahun masing masing mereka sudah menyumbang 20 juta keuntungan ke owner Bluebird. Sinergi Koperasi Uber, ribuan supir ex Bluebird dan lembaga keuangan yang cerdik, akan membuat penghasilan mereka bisa naik signifikan. Pertanyaan berikutnya adalah : Apakah ide aliansi ribuan supir eks bluebird dengan Koperasi uber ialah ide fantasi ? Why not ? Impossible is nothing. Negeri fantasi itulah yang dulu dicita-citakan para pelopor Koperasi dunia baik di Eropa maupun di Indonesia. Negeri saat ribuan kaum proletar bersatu robohkan kapitalis. Itulah Paradoks Teknologi : bagaimana aplikasi buatan negeri kapitalis yang justru akan jadi senjata maut untk membunuh kapitalisme itu sendiri yang rakus. Bung Hatta mungkin tidak pernah menyangka bahwa ide ide besarnya tentang sharing economy yang lebih fair dapat diwujudkan oleh Silicon Valley Guys. Energi kemarahan ribuan supir mungkin akan lebih cantik jika disenyawakan dengan  energi sharing economy ala Uber. Sebab chemistry ribuan ex supir taksi blue bird dengan  koperasi Uber-lah yang hanya bisa membuat nasib mereka berubah.

----------

(Pak, kalau kebanyakan sampai sini saja artikelnya, tapi kalau masih bisa boleh ditambah tulisan dibawah ini)

Apilikasi online Koperasi

Zaman dulu ketika orang bepergian seringkali membawa uang tunai dalam dompetnya dalam jumlah banyak sehingga dompet mereka setebal hamburger. Mereka memiliki banyak kantong untuk menyimpan uang, seperti di gesper, disimpan di peci, saku celana depan dan belakang atau bahkan seperti gespernya Bang Ben. Kemudian sejalan dengan sukesnya ATM, kartu ATM pun semakin populer hingga bisa digesek di EDC Swipe dan ditambah dengan pengamanan PIN. Otomatis hampir semua toko dan gerai usaha memiliki EDC yang dapat memproses kartu ATM atau biasa disebut juga sebagai kartu Debit. Kemudian seiring perkembangan, ATM dengan PIN ini mulai ditinggalkan karena kurang praktis harus memasukan PIN yang perlu ekstra hati hati sebab bisa dijebol pihak lain yang tidak bertanggung jawab. Disinilah diperlukan konsep Uang Elektronik (e-wallet), yaitu bagaimana membuat alat pembayaran menggunakan kartu ini lebih praktis tanpa menggunakan PIN. Konsep kartu debit dengan e-wallet secara fisik sangat berbeda. Kartu ATM/Debit/Kartu kredit selalu harus memiliki fisik yaitu berupa kartu, sedangkan e-wallet secara fisik bisa dibilang tidak ada. System e-wallet dapat dipergunakan di Koperasi untuk berbagai macam transaksi. Guna mendukung e-wallet dan Koperasi online ini maka telah dikembangkan teknologi IBS (Integrated microBanking System) yang dapat digunakan untuk semua jenis transaksi seperti :

  1. IBS ATM, aplikasi online yang memungkinkan koperasi menyelenggarakan layanan mesin ATM untuk anggota, baik ATM on us maupun ATM bersama Bank Umum.
  2. IBS Mobile, yaitu aplikasi yang memungkinkan anggota/nasabah untuk melakukan transaksi keuangan elektronik menggunakan smartphone.
  3. IBS Net, yaitu aplikasi layanan yang memungkinkan anggota/nasabah koperasi untuk melakukan transaksi keuangan elektronik menggunakan internet browser melalui perangkat computer, tablet dan smartphone.
  4. IBS Maal Mobile, yaitu aplikasi untuk mengelola transaksi keuangan Lembaga Amil Zakat atau Baitul Maal yang meliputi pencatatan : Muzaki, mustahik, amilin, neraca, laporan sumber dan penggunaan dana (mobile, transfer bank, teller)
  5. Bank Sampah, yaitu aplikasi yang mengintegrasikan layanan bank sampah dengan system akuntansi Koperasi berbasis rekening ponsel yang dilengkapi dengan berbagai layanan keuangan elektronik (pembayaran, pembelian dan transfer)
  6. VIP Mobile, yaitu aplikasi yang memungkinkan anggota/nasabah koperasi melakukan transaksi elektronik melalui aplikasi mobile, sms, internet banking dan prepaid card dimana rekening yang digunakan ialah rekening ponsel (nomor HP sebagai nomor rekening).
  7. BMS (Bank Mini Sekolah), aplikasi yang memungkinkan Koperasi untuk menghimpun dana dari siswa/santri melalui penyelenggaraan Bank Mini Sekolah/Kampus/Pesantren. Fiturnya berupa : SMS Banking, SMS School Report, Mobil banking, uang saku/uang sekolah, dll)
  8. IBS Branchless, aplikasi yang memungkinkan Koperasi untuk melayani anggota/nasabah secara door to door dan atau nasabah yang berlokasi di daerah pelosok perdesaan (remote area).
  9. IBS SMS, yaitu aplikasi yang memungkinkan anggota koperasi untuk melakukan transaksi elektronik menggunakan SMS.

 

Kesimpulannya ialah Koperasi tanpa aplikasi  dan IT tidak akan berjalan dengan baik bahkan cenderung berjalan seperti keong dan akan semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Aplikasi on line merupakan kebutuhan era Information Technologi khususnya bagi pengembangan Koperasi menuju Koperasi modern. Untuk mendukung hal tersebut, PINBUK Wilayah Banten telah mengembangkan aplikasi-aplikasi di atas melalui USSI Pinbuk Prima Software. (Bluebird Story The Magic of Sharing Economy, ditulis kembali, dari berbagai sumber).


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan